Studi Buktikan, Memukul Anak Malah Membuat Perilakunya Makin Buruk

Belakangan ada sebuah riset yang mengungkap faktor penyebab perilaku buruk pada anak-anak usia sekolah. Hasilnya mematahkan anggapan bahwa perilaku tersebut muncul karena sifat bawaan anak, orangtua, atau lingkungan tempat tinggal.

Dengan menggunakan teknik stastistik, para peneliti menemukan perilaku buruk muncul sebagai imbas atas kekerasan yang diterima anak dari orangtua sejak kecil.

Dalam jurnal yang sudah diterbitkan di Association for Psychological Science, para peneliti juga membandingkan hal ini dengan anak-anak yang tidak pernah mendapat kekerasan oleh orangtuanya.

“Temuan kami menunjukkan bahwa pukulan tidak efektif untuk menghukum. Sebaliknya, (pukulan) justru membuat anak berperilaku buruk,” kata peneliti utama masalah ini, psikolog Elizabeth T Gershoff dari Universitas Texas, Austin, seperti dikutip dari Science Daily.

Pada awalnya, para peneliti kesulitan untuk membuktikan hal ini karena mereka tidak mungkin meminta para orangtua untuk memukul anaknya.

Namun, mereka kemudian memilih metode statistik yang mencocokkan angka kecenderungan kekerasan dalam rumah tangga dengan perilaku bermasalah anak-anak.

Gershoff dan rekan penelitiannya, Kierra M. P. Sattler (Universitas Texas, Austin), dan Arya Ansari (Universitas Virginia) memeriksa data 12.112 anak-anak yang sebelumnya berpartisipasi dalam riset Early Childhood Longitudinal dalam skala nasional.

Baca juga  Ternyata Sinetron Dan Program TV Indonesia Disukain Sama Malaysia Lho

Mereka mengklasifikasikan mereka dalam dua kelompok, yakni anak-anak yang saat usia 5 tahun sudah pernah dipukul orangtua dan yang belum. Dari sini, dua kelompok anak tadi dicocokkan dengan karakteristik keluarga, usia anak, jenis kelamin, kesehatan menyeluruh, dan masalah yang dibuat saat berusia 5 tahun.

Baca juga : Ternyata Sinetron Dan Program TV Indonesia Disukain Sama Malaysia Lho

Selain itu, diklasifikasikan juga pendidikan orangtua, usia, status perkawinan, status sosial ekonomi, dan faktor-faktor yang berkaitan dengan kualitas dan konflik orang tua di rumah.

Dengan cara itu, mereka dapat melihat perbedaan yang jelas antara kedua kelompok anak-anak. Perbedaan utamanya adalah orangtua yang melakukan kekerasan pada anaknya akan berdampak buruk pada perilaku anak.
Untuk mengukur masalah perilaku anak dari waktu ke waktu, ketiga peneliti itu meminta guru untuk melakukan pemeriksaan saat anak-anak berusia 5, 6, dan 8 tahun.

Para guru melaporkan frekuensi perdebatan anak-anak, bertengkar, marah, bertindak impulsif, dan mengganggu aktivitas temannya.

Hasilnya, anak-anak yang pernah dipukul saat balita menunjukkan perilaku buruk yang lebih besar saat mereka berusia 6 dan 8 tahun.

Baca juga  Kalau 7 Hal Ini Terjadi, Berarti Keluarga Pacar Nggak Merestui

“Fakta bahwa anak yang sudah pernah mendapat pukulan berperilaku buruk beberapa tahun ke depan cukup mengejutkan. Hal ini menunjukkan bahwa pemukulan pada anak dengan frekuensi berapapun tetap berpotensi membahayakan anak-anak,” ujar Gershoff.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.