Ih, Jangan Asal Rekam Dong!

Hidup di zaman yang serba modern, di penuhi dengan kecanggihan teknologi menuntut kita untuk selalu mengikutinya. Jika kita mengabaikannya, maka kita akan jadi orang yang kudet, tidak berwawasan, tidak nyambung dengan kondisi di sekitar kita.

Bayangin aja kalau ente di ajak ngobrol sama temen kantor, tentang hal yang saat ini lagi hits, misalkan aja mengenai raisa yang udah gak perawan lagi trus ente kaget karena ga update sama berita ini, jadi tengsin kan?

Dan bicara mengenai hal yang update, kalau jaman dulu banget, orang menggunakan media koran untuk mendapatkan berita, kemudian siaran berita radio, dan hingga akhirnya jaman sosial media melanda. Segala informasi yang kita inginkan ada di media sosial. Dari berita yang verified sampai berita hoax pun ada.

Saking kebutuhan akan berita yang cepat, jika dulunya kalau ingin men share segala sesuatu yang ada di sekitar kita dengan update status, saat ini tidak sedikit di antara kita yang menggunakan video, bisa dengan blog atau live di instagram.

Tapi gak seharusnya juga kan semua yang kita lihat di video-in trus di share juga ?

Harusnya bisa memilah, mana yang bisa di share, mana yang enggak

Gak semua yang kita lihat di hadapan kita dan menarik, bisa kita share ke khalayak umum. Masak iya, ada orang ngajengkang dari angkot mau ente rekam, menarik dan pasti banyak yang view, like dan komen sih kalo di upload di medsos, tapi kan kasian sama korbannya. Coba bayangin kalo yang ngajengkang tuh kamu terus di rekam orang lain terus di masukin ke Youtube. Sakit kan? Bukan sakit sih tapi malu.

Mending share hal positif aja, biar bisa menularkan energi positif

Melakukan kegiatan sosial, membantu korban bencana alam termasuk kegiatan yang positif. Kegiatan seperti ini bisa kita share di medsos. Bukan dengan tujuan buat pamer tentunya, tapi buat menunjukkan ke follower kita bahwa masih banyak orang yang membutuhkan di luar sana dan sekaligus memberi contoh buat mereka bahwa berbagi itu indah. Kalaupun mereka tidak bisa membantu, paling tidak mereka bisa merasa bersyukur terhadap apa yang mereka miliki sekarang.

Tapi kalau sekarang mah, ada orang kecelakaan bukannya di tolongin tapi malah di rekam

Ini fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Entah karena rasa sosial yang sudah mulai luntur atau memang mereka sudah nggak punya empati. Lagi jalan, ada tabrakan bukannya nolongin, entah dengan panggil ambulan atau nolongin semampunya tapi malah sibuk buat cari smartphone buat ngerekam kejadian itu.

Mungkin tujuannya biar dibilang paling update, tapi nggak gini juga keleus

Buat orang-orang sekarang atau lebih dikenal kids jaman now, semakin cepat dia dapat info yang fresh, semakin bisa dibilang update. Apalagi kalau bisa jadi satu-satunya yang dapat video exclusive kecelakannya, bakalan dapet view, like, comment bejibun. Belum lagi nanti kalau media lain seperti media tv atau portal berita mengambil video yang dia rekam tadi, bakalan bangga deh. “Itu aku yang ngerekam loh”.

Kepuasan mengalahkan rasa sosial

Inilah dampak negatif dari media sosial yang sekarang ini membayangi para penggunanya. Semua butuh pengakuan kalo dia yang paling. Paling update, paling banyak follower, paling eksis dsb. Harena hal itu, seseorang yang punya sifat dasar empati menjadi terlena, tidak peduli dengan orang lain, yang penting saya eksis, saya puas.

 

Kemajuan teknologi memang membawa efek yang baik dan efek yang tidak baik. Seperti halnya dalam urusan rekam-merekam. Semua orang saat ini bisa punya akses untuk merekam segala kejadian yang ada di depannya dengan kamera smartphone yang hampir dimiliki semua orang. Tapi tergantung dengan kita yang menggunakannya. Mau dipakai buat share hal yang baik atau malah membagi berita buruk demi ambisi kepuasan kita?

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *