Budaya Jepang Ini Ingin Dihilangkan Warganya Sendiri

Di dunia ini ada berbagai macam kebudayaan dan tentunya setiap negara mempunyai kebudayaan yang berbeda beda, tetapi pernahkah kita mendengar kalau ada budaya di masyarakat yang malah membuat pelakunya merasa “tidak nyaman” melakukannya alias tidak suka dengan budaya tersebut?

Hal ini terjadi di Jepang, di mana baru-baru ini Yahoo!Jepang melakukan survey kepada sekitar 200 partisipan yang berusia antara 20 sampai 30 tahun yang menurut mereka budaya ini lebih baik di hilangkan saja.

Berikut adalah budaya-budaya di Jepang yang membuat tidak nyaman pelakunya.

Selalu menuangkan sake kepada yang lebih tua berlaku di setiap perusahaan

Budaya menghormati orang yang usianya lebih tua sangat berlaku di jepang, biasanya bila acara minum-minum di perusahaan, adalah “harga mati” untuk terus menjaga agar gelas atasan mereka tidak pernah kosong. “Bagaimana bisa menikmati pesta dan berbicang bincang dengan orang lain bila harus terus memperhatikan atasan!” ujar seorang partisipan.

Wajib tahan di pesta minum yang melelahkan

Budaya pesta minum-minum sangat kental di Jepang dan di sertai dengan gurauan dan ejekan. Kadang memaksa rekan kerja untuk minum, tetapi dibalik itu ternyata banyak para warga Jepang sendiri menganggap kebiasaan ini malah seperti anak-anak dan malah tambah stress sepulang kerja.

Baca juga  Inilah Identitas Cowok yang Wajahnya Sering Muncul di Pemutar Musik MP3

Wajib memberi cokelat kepada rekan kerja

Pada hari Valentine wajib bagi para perempuan jepang untuk memberikan coklat kepada lawan jenis. Ada 2 jenis coklat yaitu “honki atau honmei choco” diberikan untuk pria yang sangat disuka dan cokelat jenis “girls choco” adalah cokelat wajib yang harus diberikan untuk semua pria di divisi mereka di kantor. Dib alik budaya itu ternyata para perempuan Jepang menganggap kegiatan itu hanya membuang-buang waktu dan membuat capek, begitupun para pria menganggap hal ini sangat melelahkan karena harus membalas satu satu pada saat itu juga.

Membalas hadiah yang pernah diberikan saat pernikahaan

Budaya beri-memberi di Jepang cukup merepotkan juga, misalnya pada saat pesta pernikahan adalah wajib memberi uang kepada pengantin, tetapi nanti sang pengantin wajib membalas uang si pemberi hadiah dengan jumlah yang setara dengan uang yang pernah diterimanya. Makna yang di ambil dari kajadian diatas adalah menhitung dan mencari hadiah yg tepat cukup merepotkan untuk si pemberi dan penerima.

Baca juga  Kenapa Manusia Ada yang Cadel?

Acara Afterparty setelah minum-minum

Acara Afterparty cukup membuat malas untuk ikut datang ke acara minum-minum bersama atasan, para karyawan pria dan wanita juga kadang dipaksa untuk terus ikut “Nijikai” atau pesta kedua. Yang lucunya, cuma pindah restoran atau bar saja.

Memberikan Uang di Pesta Pernikahan

Budaya yang sama dengan yang ada di Indonesia, tapi budaya ini dianggap menyusahkan kalau di Jepang, Sumbangan uang yang pas untuk di Jepang rata rata 10.000 Yen, bahkan lebih bila sang pengantin adalah saudara dekat. Itulah salah satu alasan mengapa orang Jepang merasa malas ketika mendapat undangan pesta pernikahan. “Rasanya seperti dipaksa membayar tiket masuk!” ujar salah satu partisipan survey.

Wajib membawa omiyage/oleh-oleh sepulang liburan

Bila cuti liburan kantor wajib membeli segudang oleh-oleh, karena setelah masuk kerja wajib semua penghuni kantor mendapatkannya. Ya, semuanya.

 

Bagaimana kalau di Indonesia? Ada nggak budaya yang harus dihilangkan? Selain gak mau ngantri, buang sampah, terobos jalur (bus way dan lampu merah), parkir sembarangan dan jualan sembarangan.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.